Asal-usul Nama Desa Edor
Berdasarkan penuturan para orang tua terdahulu serta tokoh masyarakat yang dapat dipercaya, nama Desa Edor diambil dari nama salah satu sungai setempat yang bermuara langsung ke pantai. Dalam bahasa lokal, kata “Edor” didefinisikan sebagai “jalan pintas”.
Era Migrasi Lokal dan Kehidupan Awal
Sebelum ditetapkan secara administratif sebagai sebuah desa tetap, masyarakat Edor mengalami rentetan sejarah migrasi lokal yang cukup panjang. Penduduk asli Desa Edor sebetulnya berasal dari sebuah daratan bernama Garosa. Wilayah Garosa ini terbentuk berdasarkan hasil kesepakatan bersejarah antara Raja Tidore dan Raja Kumisi, yang lokasinya terletak sekitar 500 meter di sebelah barat Desa Yarona saat ini.
Akibat abrasi pantai dalam skala besar yang mengikis daratan Garosa, penduduk asli Edor terpaksa mengungsi ke daratan Setuama, lalu berpindah lagi ke daratan Weibi. Beberapa waktu kemudian, ketika melihat daratan Garosa sudah kembali surut dan tidak lagi terendam air laut, masyarakat memutuskan kembali ke Garosa untuk menetap dan bercocok tanam. Demi bertahan hidup saat itu, penduduk menanam kelapa dan sayur-mayur di sela-sela tegakan pohon kayu besi (kayu ulin).
Perubahan besar terjadi pada tahun 1980, ketika perusahaan kayu milik keluarga Cendana, PT Jayanti Group, masuk ke wilayah Garosa untuk mengeksploitasi potensi kayu besi. Setelah sumber daya kayu di wilayah tersebut habis, masyarakat memilih untuk meninggalkan Garosa dan bermigrasi kembali ke daratan Weibi.
Pemekaran dan Terbentuknya Desa Definitif (1990–1991)
Pada tahun 1990, Pemerintah Distrik mengumumkan rencana pemekaran Kampung Esania menjadi beberapa desa. Mendengar kabar tersebut, masyarakat Edor yang sedang menetap di daratan Weibi berinisiatif mengusulkan kepada Kepala Distrik Buruway yang saat itu dijabat oleh Drs. Latarambaga, agar Edor dapat diakui sebagai salah satu desa mandiri di Distrik Buruway.
Usulan tersebut diterima dengan baik. Pada tahun 1991, Edor resmi dimekarkan dari Esania dan ditetapkan menjadi desa definitif. Husain Bauw terpilih dan dilantik sebagai Kepala Desa pertama. Di bawah kepemimpinannya, pusat pemerintahan Desa Edor berjalan selama 8 tahun di daratan Weibi.
Tantangan Geografis dan Pencarian Lahan Baru
Meskipun sudah berstatus definitif, lokasi Desa Edor di daratan Weibi secara demografi dan geografis sangat tidak menguntungkan sehingga desa sulit berkembang. Saat air laut pasang, pemukiman warga kerap terendam banjir rob karena posisi bibir pantai justru lebih tinggi daripada daratan pemukiman.
Selain masalah banjir, pemenuhan kebutuhan air bersih juga menjadi kendala utama. Meskipun warga telah membangun dua bak penampung air hujan, pasokan air tetap tidak mencukupi. Untuk keperluan mandi dan mencuci, warga terpaksa menggunakan air sumur yang telah tercampur dengan air rawa, sehingga airnya tampak jelas berwarna kuning.
Melihat kesulitan hidup yang dihadapi warganya, pemerintah distrik memberikan izin kepada masyarakat Desa Edor untuk mencari lahan baru yang lebih layak. Kepala Desa Husain Bauw kemudian berinisiatif berkeliling di sepanjang kawasan Buruway menggunakan sampan kecil untuk mencari daratan baru. Setelah sekian lama mencari, ia menemukan sebuah lahan datar yang tertutup oleh hutan mangrove. Daratan tersebut bernama Fosyanda (yang berarti anak kali di Edor).
Husain Bauw lalu kembali ke desa untuk mendiskusikan rencana pemindahan pemukiman ke Fosyanda. Namun, proses diskusi tersebut tidak berjalan mulus karena memicu pro dan kontra di tengah masyarakat terkait rencana relokasi penduduk.
Relokasi ke Fosyanda dan Babak Baru Desa Edor (1999–2001)
Pada tahun 1999, masa jabatan kepala desa berakhir dan diadakan pemilihan Kepala Desa Edor yang baru. Pemilihan tersebut diikuti oleh 3 calon, yaitu Husain Bauw, Abdul Kadir, dan Marhaban Kanu, dengan total pemilik hak suara sebanyak 20 orang. Dalam kontestasi tersebut, Abdul Kadir berhasil terpilih sebagai Kepala Desa Edor yang baru setelah memperoleh 16 suara.
Sebagai kepala desa terpilih, Abdul Kadir mengakhiri pro-kontra relokasi dengan resmi memindahkan pemukiman Desa Edor ke Fosyanda pada tahun 2001. Langkah strategis ini mendapat persetujuan resmi dari Kepala Distrik Buruway yang saat itu dijabat oleh Drs. Ajid Hikadir, untuk selanjutnya dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten induk, yaitu Kabupaten Fakfak (sebelum Kabupaten Kaimana dimekarkan secara mandiri pada tahun 2003). Sejak saat itulah, Desa Edor menetap dan terus berkembang di wilayah Fosyanda hingga saat ini.